RSS

My 7 Years Ago Fanfiction [Re-write, 18+] - PART 1

FINAL


Begitu mudahnya aku dicintai

Begitu mudahnya aku mendapat kasih sayang dari orang lain

Namun, sesulit inikah aku untuk mencintai?

Sebegitu beratnya kah aku membalaskan cinta seseorang?

Hingga aku tidak dapat melakukannya

Hingga aku mengabaikannya

Bahkan

Hingga aku melenyapkannya….



                Sudah membentang di hadapanku gedung-gedung tinggi pencakar langit. Masih dengan mataku yang sayu, sehingga begitu memburamkan pandanganku. Masih terbesit sebuah b ayangan yang mungkin sangat mengerikan bila aku ingat kembali. Rasa ketakutanku selalu muncul ketika aku mengingatnya hingga memikirkannya. Bajuku sedikit lusuh setelah aku berjalan seharian berkeliling kota. Tidak ada mobil yang dapat mengantarkanku. Hanya kaki ini yang setia melangkah bersamaku, mengantarku mengelilingi kota yang sungguh menawan dengan gedung-gedung tinggi yang menakjubkan.

“Efraim, kau sedang apa di sini?” sebuah suara membuatku tertegun.

Aku memutar balik tubuhku yang sudah lelah. Dengan perasaan yang masih terkejut dan jantungku yang belum dapat berdetak normal. Sedikit pangling dengan sosok yang sudah berdiri anggun di hadapanku. Aku mencoba kembali memposisikan diri sebaik mungkin. Agar tidak ada cela keburukanku di hadapan seorang wanita.

“Ya, kau pikir aku sedang apa hah?” jawabku, namun justru membalikan pertanyaannya.

Inilah sifatku. Aku sungguh tidak suka terlibat dalam sebuah perbincangan. Terlebih dengan sosok wanita yang ada di hadapanku. Mengingatnya pernah berbuat gila dan itu sungguh menjijikan.mengejar-ngejarku dan mengemis cintaku. Dia pikir aku akan peduli padanya. Sunggu perempuan yang malang, begitu buruk kehidupannya.

“Ah, kau menyebalkan sekali haha.” Aku membulatkan mataku yang sesungguhnya sudah tergolong bulat. Hatiku rasanya terbakar melihat sosoknya tertawa renyah di hadapanku. Pikirnya ini hal yang lucu, tapi sungguh aku tidak percaya apa itu sebuah lelucon. Di dunia ini, belum ada lelucon yang berhasil membuatku tertawa. Semua tampak biasa saja dan tidak ada yang lucu di sini. Dan kupikir waktu sudah tidak mengijinkannya lagi berhadapan denganku.

“Sudah selesai? Ku pikir kau bisa meninggalkanku sekarang.” Ucapku santai bermaksud membuatnya cepat pergi dari hadapanku karena aku sudah semakin muak melihat wajahnya. Terlebih tawanya yang membuatku ingin mengeluarkan isi perutku.

“Kau jahat, huh.” Perempuan tidak tahu diri itu berlari meninggalkanku. Memang membuatku terpaku sendirian di sini. Namun sendiri lebih baik dari pada harus ditemani sosok perempuan bodoh itu. Rasanya aku ingin melenyapkannya begitu saja dari kehidupan ini.

Lari, aku hanya sanggup lari

Lari, aku hanya dapat lari

Lari, dan aku lari dari semuanya

Semuannya yang hampir menghilangkan kewarasanku

Namun, kupikir itu berhasil

Bukan sekedar hampir membuatku gila

Tapi, kini aku sudah gila karenanya

Waktu terus berjalan. Jarum-jarum kecil itu kini telah berpindah tempat, memutari lingkaran yang tidak ada ujungnya. Tidakkah bosan jarum kecil itu setia mengelilingi dunia yang tidak berujung?

“Aku membunuhnya. Haha.” Tawaku riang, saat ingatan itu terbesit kembali di benakku.

Tawaku bagaikan lepas di angkasa, membawa serta dukaku ke langit yang luas. Aku tersenyum kecil bagai melihat memori-memori mengerikan itu sedang berputar-putar di atas hamparan langit biru yang begitu kontras dengannya. Awan-awan kecil menemani memori yang sungguh mengerikan itu, berputar, melayang, dan menari-nari di atas jasadku yang hidup.

Aku kembali melanjutkan perjalananku. Otakku memang sudah terkontaminasi oleh signal-signal negative. Membuatnya tidak selaras dengan kakiku yang sudah meronta kelelahan. Aku tidak sanggup lagi melanjutkan perjalananku, karena aku tidak bisa bohong, kakiku sudah tidak kuat lagi melangkah. Namun, betapa hebatnya otak seorang Efraim, dapat memberi signal negative yang membuat kakiku melangkah dengan kekuatan paksaan.

“Hahahaha..” aku melayangkan tawaku.

Membuat langit biru itu menjadi kelabu. Dengan awan putih yang sudah menjelma menjadi kabut hitam. Dan turunlah tangisan kekecewaan dari langit. Inikah surat peringatan untukku bahwa aku sudah gila? Aku dapat membenarkannya. Sudah pasti langit akan mengutukku, aku begitu jahat dan tidak memiliki hati nurani. Bahkan hatiku tidak tahu dengan apa yang dinamakan CINTA. Membuatku keliru dengan apa arti CINTA. Apa maksud CINTA?

Cinta itu pengkhianatan

To be continued..


0 komentar:

Post a Comment