RSS

Hari Anti Korupsi


Berkuliah di PKN STAN merupakan salah satu anugerah besar yang Allah berikan kepada saya. Hari itu ketika Allah mengizinkan nama saya tercantum dalam pengumuman kelulusan penerimaan mahasiswa baru PKN STAN saya melihat orang tua saya menangis. Menangis karena bahagia, menangis karena bangga, menangis karena mereka menyadari bahwa Allah senantiasa mendengar doa mereka.

Waktu berlalu begitu cepat dan saya telah melewati UTS pertama saya. Saat ini saya teringat kembali masa-masa dimana saya harus melalui serangkaian tes untuk dapat mengenyam pendidikan di sini. Tak pernah sekalipun orang tua saya hadir ketika saya menempuh rangkaian tes tersebut bahkan mengantarkan pun tidak. Satu kalimat yang diucapkan oleh ibu saya, "Mimih mau disaat kakak tes mimih berada di atas sajadah, berdoa buat kakak supaya dilancarkan tesnya." Kalimat itu sangat menampar saya ketika saya sempat merasa iri kepada orang-orang yang datang untuk tes dengan diantar bahkan didampingi oleh orang tuanya.

Mengenang masa-masa itu membuat saya merasa sangat bersyukur. Seperti kalimat yang dikutip dari lirik salah satu lagu JKT48, "Usaha keras itu tak akan mengkhianati." Juga bait-bait doa yang selalu dipanjatkan orang-orang yang menyayangi kita yang akan mengantarkan kita pada akhir dari sebuah tujuan yang mulia.

Namun, terlepas dari masa-masa sulit saat ujian saringan masuk, siapkah kita untuk menghadapi ombak yang lebih besar?

Saat orang-orang tahu bahwa saya diterima di jurusan pajak PKN STAN, tahukah kamu kalimat seperti apa yang pertama kali mereka lontarkan? Kalimat pujian kah? Iya mereka memuji, mereka mengatakan bahwa saya hebat, namun ada satu kalimat lain yang membuat hati saya terluka. Mereka berkata, "Wah nanti kerja di pajak, lahan basah tuh, gampang kalau mau korupsi." Memang masyarakat masih belum melupakan kasus Gayus atau bahkan mereka tidak akan pernah melupakannya. Seperti peribahasa 'karena nila setitik, rusak susu sebelangga' kasus Gayus ini ikut menyeret alumni maupun mahasiswa PKN STAN kepada label koruptor atau benih-benih koruptor. Padahal yang kita ketahui bahwa kampus kita tercinta ini sangat bersih dari KKN lalu bagaimana bisa benih-benih koruptor tumbuh di sini? Kita sangat menjunjung tinggi integritas. Mau nyontek atau curang? DO ganjarannya. Di sini kami dididik dan diajarkan nilai-nilai Kementerian Keuangan guna menjadi insan Kementerian Keuangan yang baik ke dalam maupun ke luar. Artinya tak hanya baik bagi instansi tetapi juga baik bagi masyarakat. Sehingga menurut saya pribadi stigma masyarakat tentang benih-benih koruptor tak pantas ditujukan pada kampus Ali Wardhana ini.

Berbicara soal korupsi saya ingin mengaitkannya dengan cerita saya di atas. Terpikirkan oleh saya bagaimana perasaan orang tua saya ketika anak yang menjadi kebanggaannya terlibat kasus korupsi, pun masyarakat yang telah berpikiran bahwa kuliah di PKN STAN memudahkan kita untuk bebas menggerogoti uang rakyat. Orang tua saya akan kembali menangis. Bukan menangis seperti ketika saya diterima di kampus ini. Mereka menangis kecewa. Sudah berapa banyak jam tidur mereka korbankan demi bangun di sepertiga malam? Sudah berapa banyak keringat mereka teteskan agar kebutuhan saya selalu terpenuhi? Dan kini sanggupkah saya merusak harapan kedua orang tua saya? Sanggupkah saya melukai hati mereka? Sanggupkah saya melihat orang tua saya dicaci maki karena anaknya seorang koruptor? Sanggupkah saya mengkhianati pengorbanan mereka demi mengantarkan saya menuju sukses? Jawabannya saya tidak sanggup dan tidak akan pernah sanggup.

Hari ini bertepatan dengan Hari Anti Korupsi saya sebagai mahasiswa PKN STAN memilih untuk berintegritas. Mengabdi demi Negara, demi masyarakat, dan yang terpenting demi kedua orang tua saya.

#SPEAKSTAN
#SinergywithinIntegrity
#IntegritasTanpaBatas
#HariAntiKorupsi