FINAL
Begitu mudahnya aku
dicintai
Begitu mudahnya aku
mendapat kasih sayang dari orang lain
Namun, sesulit inikah
aku untuk mencintai?
Sebegitu beratnya kah
aku membalaskan cinta seseorang?
Hingga aku tidak dapat
melakukannya
Hingga aku
mengabaikannya
Bahkan
Hingga aku
melenyapkannya….
Sudah
membentang di hadapanku gedung-gedung tinggi pencakar langit. Masih dengan
mataku yang sayu, sehingga begitu memburamkan pandanganku. Masih terbesit
sebuah b ayangan yang mungkin sangat mengerikan bila aku ingat kembali. Rasa ketakutanku
selalu muncul ketika aku mengingatnya hingga memikirkannya. Bajuku sedikit
lusuh setelah aku berjalan seharian berkeliling kota. Tidak ada mobil yang
dapat mengantarkanku. Hanya kaki ini yang setia melangkah bersamaku,
mengantarku mengelilingi kota yang sungguh menawan dengan gedung-gedung tinggi
yang menakjubkan.
“Efraim, kau sedang apa di sini?” sebuah suara
membuatku tertegun.
Aku memutar balik tubuhku yang sudah lelah. Dengan
perasaan yang masih terkejut dan jantungku yang belum dapat berdetak normal. Sedikit
pangling dengan sosok yang sudah berdiri anggun di hadapanku. Aku mencoba
kembali memposisikan diri sebaik mungkin. Agar tidak ada cela keburukanku di
hadapan seorang wanita.
“Ya, kau pikir aku sedang apa hah?” jawabku,
namun justru membalikan pertanyaannya.
Inilah sifatku. Aku sungguh tidak suka terlibat
dalam sebuah perbincangan. Terlebih dengan sosok wanita yang ada di hadapanku. Mengingatnya
pernah berbuat gila dan itu sungguh menjijikan.mengejar-ngejarku dan mengemis
cintaku. Dia pikir aku akan peduli padanya. Sunggu perempuan yang malang,
begitu buruk kehidupannya.
“Ah, kau menyebalkan sekali haha.” Aku membulatkan
mataku yang sesungguhnya sudah tergolong bulat. Hatiku rasanya terbakar melihat
sosoknya tertawa renyah di hadapanku. Pikirnya ini hal yang lucu, tapi sungguh
aku tidak percaya apa itu sebuah lelucon. Di dunia ini, belum ada lelucon yang
berhasil membuatku tertawa. Semua tampak biasa saja dan tidak ada yang lucu di
sini. Dan kupikir waktu sudah tidak mengijinkannya lagi berhadapan denganku.
“Sudah selesai? Ku pikir kau bisa
meninggalkanku sekarang.” Ucapku santai bermaksud membuatnya cepat pergi dari
hadapanku karena aku sudah semakin muak melihat wajahnya. Terlebih tawanya yang
membuatku ingin mengeluarkan isi perutku.
“Kau jahat, huh.” Perempuan tidak tahu diri itu
berlari meninggalkanku. Memang membuatku terpaku sendirian di sini. Namun sendiri
lebih baik dari pada harus ditemani sosok perempuan bodoh itu. Rasanya aku
ingin melenyapkannya begitu saja dari kehidupan ini.
Lari, aku hanya
sanggup lari
Lari, aku hanya dapat
lari
Lari, dan aku lari
dari semuanya
Semuannya yang hampir
menghilangkan kewarasanku
Namun, kupikir itu
berhasil
Bukan sekedar hampir
membuatku gila
Tapi, kini aku sudah
gila karenanya
Waktu terus berjalan. Jarum-jarum kecil itu
kini telah berpindah tempat, memutari lingkaran yang tidak ada ujungnya. Tidakkah
bosan jarum kecil itu setia mengelilingi dunia yang tidak berujung?
“Aku membunuhnya. Haha.” Tawaku riang, saat
ingatan itu terbesit kembali di benakku.
Tawaku bagaikan lepas di angkasa, membawa serta
dukaku ke langit yang luas. Aku tersenyum kecil bagai melihat memori-memori
mengerikan itu sedang berputar-putar di atas hamparan langit biru yang begitu
kontras dengannya. Awan-awan kecil menemani memori yang sungguh mengerikan itu,
berputar, melayang, dan menari-nari di atas jasadku yang hidup.
Aku kembali melanjutkan perjalananku. Otakku memang
sudah terkontaminasi oleh signal-signal negative. Membuatnya tidak selaras
dengan kakiku yang sudah meronta kelelahan. Aku tidak sanggup lagi melanjutkan
perjalananku, karena aku tidak bisa bohong, kakiku sudah tidak kuat lagi
melangkah. Namun, betapa hebatnya otak seorang Efraim, dapat memberi signal negative
yang membuat kakiku melangkah dengan kekuatan paksaan.
“Hahahaha..” aku melayangkan tawaku.
Membuat langit biru itu menjadi kelabu. Dengan awan
putih yang sudah menjelma menjadi kabut hitam. Dan turunlah tangisan kekecewaan
dari langit. Inikah surat peringatan untukku bahwa aku sudah gila? Aku dapat
membenarkannya. Sudah pasti langit akan mengutukku, aku begitu jahat dan tidak
memiliki hati nurani. Bahkan hatiku tidak tahu dengan apa yang dinamakan CINTA.
Membuatku keliru dengan apa arti CINTA. Apa maksud CINTA?
Cinta itu pengkhianatan
To be continued..

